Malam itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Dari kejauhan, gema suara takbir mulai bersahutan dari masjid di ujung jalan. “Allahu akbar… Allahu akbar…” Lantunan itu mengalun syahdu, berpadu dengan suara tawa anak-anak yang berlarian di gang sambil membawa obor kertas. Sesekali letupan petasan kecil terdengar, memecah hening dan disambut gelak tawa. Malam takbir memang selalu punya cara sendiri untuk terasa istimewa.
Arga berdiri di depan lemari kayu kecil di kamarnya. Ia membuka pintunya yang sedikit berderit, lalu menatap isi di dalamnya. Tidak banyak, hanya beberapa kaos usang, sebuah jaket tipis, dan dua kemeja yang digantung rapi. Tangannya terulur mengambil salah satu kemeja putih. Ia memperhatikan kainnya lama, warnanya memang tak lagi secerah dulu, namun masih bersih dan layak pakai. “Masih bagus kok,” gumamnya pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri, sebelum melipatnya kembali.
Dari dapur terdengar bunyi piring beradu pelan. Arga melangkah ke sana. Terlihat ibu berdiri di depan kompor dengan kerudung yang sedikit miring, tangannya sibuk mengaduk panci. Ayahnya duduk di dekat meja, mengupas bawang dengan telaten. “Ibu masih masak?” tanya Arga. Ibunya tersenyum kecil. “Iya, besok kan Lebaran. Masa tidak ada apa-apa di meja?” Ayahnya ikut menimpali sambil tersenyum, “Kalau ibumu sudah di dapur saat malam takbiran, itu tandanya kita akan makan enak besok.”
Arga tertawa pelan. Rumah mereka memang sederhana. Tidak ada hidangan mewah atau tamu dari jauh. Namun setiap tahun, ibunya selalu berusaha membuat Lebaran terasa hangat. Matanya diam-diam memperhatikan ibunya. Kerudung yang dipakai, lagi-lagi yang itu. Ia hafal betul hampir semua pakaian ibunya. Ada keinginan kecil yang mengganjal di hatinya, namun ia hanya tersenyum tipis dan kembali ke kamar.
Langkahnya terhenti saat hendak menutup pintu. Dari ruang tengah terdengar suara ibunya berbicara pelan kepada ayah. “Maaf ya… tahun ini kita belum bisa belikan Arga baju Lebaran. Uangnya kepakai untuk kebutuhan lain.” Hening sejenak, ayahnya tidak langsung menjawab “Tidak apa-apa,” jawab ayahnya lembut. “Arga anak yang pengertian.”
Arga menunduk. Pelan-pelan ia menutup pintu. Di atas meja belajarnya, sebuah kaleng kecil yang sedikit penyok menarik perhatiannya. Ia duduk dan menatapnya lama. Itu tabungannya, yang awalnya ingin ia gunakan untuk membeli sepatu baru. Tangannya perlahan membuka tutup kaleng itu. Koin-koin dan beberapa lembar uang yang terlipat terlihat di dalamnya. Senyum kecil muncul di wajahnya. “Kayaknya… ibu yang lebih butuh,” bisiknya.
Malam itu juga Arga berjalan ke pasar kecil di dekat gang. Lampu-lampu toko menyala terang, orang-orang masih sibuk mencari kebutuhan terakhir mereka menjelang Lebaran. Setelah berkeliling cukup lama, ia menemukan baju sederhana berwarna biru muda dan sebuah kerudung yang lembut dengan warna kesukaan ibunya. Dengan hati berdebar, ia membayar menggunakan seluruh tabungannya. Bungkusan kecil itu ia peluk erat sepanjang perjalanan pulang.
Pagi Idul Fitri tiba. Udara terasa segar, langit tampak bersih seolah ikut menyambut hari kemenangan. Arga keluar dari kamar setelah bersiap untuk salat Id. Ibunya duduk di ruang tengah, sementara ayahnya berdiri di dekat pintu sambil merapikan peci. Arga mendekat, membawa bungkusan kecil di tangannya. “Ibu,” katanya pelan, “Ini buat ibu, selamat Lebaran.” Ibunya tampak bingung, namun perlahan membuka bungkusan itu.
Ibu langsung terdiam, lalu matanya berkaca-kaca. “Arga… kamu beli ini?” Arga mengangguk. “Dari tabungan Arga.” Ibunya tersenyum haru, lalu meraih sebuah kantong plastik di sampingnya. “Ibu juga punya sesuatu,” ucapnya lembut. Arga membuka kantong itu dan terdiam. Sebuah kemeja putih baru terlipat rapi di dalamnya. “Ibu nabung sedikit-sedikit… supaya Arga tetap punya baju Lebaran,” katanya dengan suara bergetar. Ayah yang sejak tadi memperhatikan hanya menggeleng pelan sambil tersenyum hangat. “Ternyata kalian berdua sama saja,” ujarnya.
Beberapa menit kemudian mereka bersiap berangkat. Arga mengenakan kemeja putih barunya, sementara ibunya merapikan kerudung biru muda pemberian Arga di depan cermin kecil. “Sudah, cepat. Nanti terlambat salat Id,” kata ayah sambil tertawa ringan. Mereka bertiga berjalan bersama menuju masjid di ujung jalan, diiringi dengan gema takbir yang masih bergema menyatu bersama udara pagi.
Di langkah-langkah sederhana itu, Arga akhirnya mengerti bahwa Lebaran bukan hanya tentang baju baru semata. Lebaran adalah tentang hati yang kembali bersih, tentang kasih yang tak selalu terucap, dan tentang cinta kecil yang diam-diam diperjuangkan demi membahagiakan satu sama lain.
Karya: Eksemplar
Editor: Byline





