Perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin pesat telah mengubah cara mahasiswa dalam belajar, bekerja, dan berinteraksi di lingkungan pendidikan tinggi. Transformasi ini menuntut perguruan tinggi untuk lebih adaptif terhadap inovasi digital. Melihat perubahan tersebut, Google menghadirkan program Google Student Ambassador (GSA) sebagai upaya untuk mendorong mahasiswa menjadi penggerak literasi digital di kampus masing-masing.
Dilansir dari prasetya.ub.ac.id, GSA merupakan program duta mahasiswa Google yang ditujukan bagi mahasiswa aktif dari semua jurusan dan semester dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, yang memiliki minat teknologi serta kepedulian terhadap perkembangan Artificial Intelligence (AI). Program ini tidak hanya berfokus pada pengenalan produk Google, tetapi juga bertujuan membentuk mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu menyebarkan pemahaman tentang pemanfaatan AI secara bijak dan bertanggung jawab di lingkungan akademik.
Mahasiswa yang berhasil terpilih sebagai GSA memperoleh kesempatan belajar langsung dari para profesional Google (Googlers), mendapatkan voucher pembelajaran, akses terhadap perangkat dan teknologi seperti Gemini AI, serta dukungan dalam menyelenggarakan kegiatan edukatif di kampus. Kegiatan tersebut dapat berupa seminar, pelatihan, maupun workshop yang membahas pemanfaatan AI secara produktif dan etis.
Mengutip dari carapandang.com, pada periode seleksi tahun 2025, ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia mengikuti proses pendaftaran yang mencakup pengisian formulir, penyusunan gagasan solusi berbasis AI untuk menjawab permasalahan di kampus, hingga tahap wawancara bersama tim Google. Dari rangkaian seleksi tersebut, sekitar 800 mahasiswa dari lebih dari 700 universitas dinyatakan lolos dan resmi dilantik sebagai GSA 2025.
Di antara ratusan mahasiswa yang berhasil lolos seleksi nasional tersebut, dua mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) turut terpilih sebagai GSA 2025. Berdasarkan informasi dari laman resmi radenintan.ac.id, keduanya adalah Dian Apriliansah dan Rama Dhika Arvembi, mahasiswa Program Studi (Prodi) Sistem Informasi (Sisfo), Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek). Pengumuman resmi ini diterima pada 11 September 2025 melalui pemberitahuan dari Google.
Salah satu mahasiswa yang mengikuti proses seleksi tersebut, Rama Dhika Arvembi, menjelaskan bahwa pendaftaran dimulai dengan pengisian tiga formulir secara daring. Formulir pertama berisi data pribadi, sementara dua formulir lainnya berisi tantangan terkait solusi berbasis AI untuk permasalahan di kampus serta pengenalan kepribadian dan pengalaman diri. Setelah lolos tahap formulir, peserta akan mengikuti tahap video interview dengan menjawab empat pertanyaan dari tim Google dalam satu video tanpa potongan dengan durasi maksimal empat menit.
Selama menjalankan perannya sebagai GSA, para mahasiswa juga aktif memperkenalkan teknologi AI kepada lingkungan kampus. Rama Dhika Arvembi menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan antara lain memperkenalkan penggunaan Gemini AI melalui sesi penjelasan serta mini game interaktif kepada mahasiswa. Kegiatan tersebut biasanya diikuti sekitar 10 hingga 30 peserta dan dilaksanakan pada periode Oktober hingga November.
Memasuki tahun 2026, Google kembali membuka kesempatan bagi mahasiswa yang ingin bergabung dalam program ini. Pendaftaran GSA 2026 dibuka mulai tanggal 23 Februari hingga 16 Maret 2026. Kesempatan ini menjadi peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi digital sekaligus memperluas jejaring profesional di bidang teknologi.
Program GSA juga memberikan berbagai manfaat bagi para pesertanya. Selain memperluas relasi dengan sesama ambassador dari berbagai kampus di Indonesia, peserta juga mendapatkan kesempatan mempelajari fitur Gemini AI secara langsung dari tim Google, memperoleh sertifikat ambassador, merchandise eksklusif, akses Gemini AI Pro selama satu tahun, serta mengikuti mini bootcamp bersama para influencer teknologi.
Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap perubahan global. GSA menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi mampu menciptakan ruang pembelajaran yang lebih dinamis, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.
Karya: Cote
Editor: Byline





