Perjalanan untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berujung pada hilangnya kontak dengan rombongan. Berdasarkan laporan dari tirto.id, lima jurnalis bersama tiga awak kapal dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, sejak Senin (07/09) hingga Minggu (13/09), keberadaan delapan orang tersebut masih dalam pencarian tim Search and Rescue (SAR) gabungan.
Masih dari sumber yang sama, rombongan berangkat menggunakan kapal cepat dari Dermaga Pagedongan, Carita, sekitar pukul 14.00 WIB. Salah seorang jurnalis sempat mengirimkan lokasi terakhir kepada rekannya di Lampung pada pukul 14.42 WIB. Lalu sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan rombongan kemudian terputus.
Dilansir dari en.antaranews.com, lima jurnalis yang berada di dalam kapal tersebut ialah Muhammad Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. Mereka berangkat bersama Warta sebagai nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Saat rombongan berangkat, Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas erupsi. Berdasarkan laporan dari apnews.com, gunung tersebut sempat mengalami erupsi secara terus-menerus selama sekitar 25 jam dan kembali mengeluarkan lava, abu vulkanik, serta material erupsi secara berkala. Aktivitas vulkanik tersebut turut menjadi perhatian dalam proses pencarian karena kondisi di sekitar gunung api dapat meningkatkan risiko pelayaran.
Dilansir dari news.detik.com, kondisi vulkanik dan perairan juga menjadi kendala dalam proses pencarian. Tim SAR menghadapi abu vulkanik yang mengurangi jarak pandang, angin kencang, serta gelombang setinggi satu hingga dua meter. Pencarian dilakukan di sejumlah wilayah perairan, mulai dari sekitar Gunung Anak Krakatau, Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung hingga arah Pulau Sebesi. Mengutip laporan dari tirto.id, bahwa tim SAR juga menyisir wilayah yang diperkirakan menjadi jalur hanyut kapal akibat arus laut, termasuk perairan yang mengarah ke Lampung.
Pada hari kedua pencarian, tim SAR gabungan membagi wilayah operasi ke dalam beberapa sektor. Berdasarkan laporan dari selatsunda.com, penyisiran dilakukan menggunakan kapal Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), kapal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), kapal kepolisian, serta perahu karet. Namun, upaya tersebut belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Seiring berjalannya operasi, wilayah pencarian terus diperluas. Mengutip laporan dari babel.antaranews.com, Rizky Dwianto selaku Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Banten, menjelaskan bahwa pada hari keenam pencarian difokuskan di Sektor X, yakni wilayah perairan di sebelah selatan Gunung Anak Krakatau. Sebanyak delapan kapal dikerahkan untuk menyisir area sekitar 681 mil laut persegi. Secara keseluruhan, operasi pada hari keenam mencakup wilayah sekitar 6.024 mil laut persegi yang terbagi menjadi enam sektor.
Dalam operasi tersebut, tim SAR mengerahkan 15 kapal, satu helikopter, dan sekitar 300 personel gabungan untuk melakukan penyisiran melalui jalur laut dan udara. Tim SAR juga menemukan sejumlah benda yang sempat diduga berkaitan dengan rombongan. Namun, berdasarkan laporan jatim.antaranews.com, helm plastik merah, jeriken biru, dan dua jaket pelampung oranye dipastikan bukan milik kapal Arupadhatu 1 maupun para jurnalis yang hilang.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi terkait keberadaan rombongan. Setiap perkembangan pencarian akan disampaikan melalui sumber resmi. Selain itu, mengutip laporan dari inet.detik.com, Kementerian Komunikasi dan Digital (KemKomdigi) turut memperkuat jaringan telekomunikasi di sekitar Selat Sunda untuk mendukung komunikasi dan koordinasi di lapangan selama operasi SAR berlangsung.
Dilansir dari babel.antaranews.com, pada Minggu (13/09) hingga hari keenam operasi pencarian, lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut masih belum ditemukan. Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran dan mengevaluasi setiap informasi yang berpotensi membantu menemukan kapal Arupadhatu 1 beserta delapan orang di dalamnya.
Karya: Brave
Editor: Byline





