Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk di dunia pendidikan. Jika dahulu teknologi hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu presentasi atau mencari informasi, kini AI mampu membantu menyusun materi pembelajaran, menjawab pertanyaan, hingga mendukung proses belajar mengajar. Kehadirannya membawa dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi, AI menawarkan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran terhadap menurunnya kemampuan berpikir kritis serta berkurangnya nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan.
Secara sederhana, AI merupakan teknologi yang dirancang untuk meniru kemampuan berpikir manusia, seperti belajar, menganalisis, dan mengambil keputusan. Berdasarkan laporan dari lib.ub.ac.id, konsep AI telah berkembang sejak 1950 melalui gagasan Alan Turing. Penerapannya di bidang pendidikan mulai berkembang melalui Intelligent Tutoring Systems (ITS), kemudian mengalami lonjakan pesat setelah pandemi CoronaVirus Disease 2019 (COVID-19) dan hadirnya AI generatif seperti Chat Generative Pre-trained Transformer (ChatGPT) pada akhir tahun 2022. Kini, AI telah menjadi bagian dari aktivitas belajar jutaan siswa, guru, dan dosen di berbagai negara.
Pemanfaatan AI di sektor pendidikan terus meningkat. Berdasarkan riset global yang dimuat di aicoursecreator.eskilled.io/id, sekitar 80% siswa di 15 negara telah menggunakan AI generatif untuk membantu mengerjakan tugas, menyusun esai, hingga merangkum materi pembelajaran. Di Indonesia, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga menunjukkan bahwa berbagai lembaga pendidikan mulai mengadopsi AI untuk mendukung proses pembelajaran sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan pendidikan.
Dilansir dari data.goodstats.id, menunjukkan bahwa penggunaan AI di lembaga pendidikan paling banyak dimanfaatkan untuk pengembangan konten pembelajaran sebesar 24,1%, seperti pembuatan materi ajar dan kuis interaktif. Selain itu, AI digunakan sebagai alat bantu guru dan tenaga pendidik (18,0%), layanan informasi dan administrasi (16,4%), sistem tutor cerdas (11,3%), serta analisis prediktif akademik (11,2%) untuk memantau perkembangan belajar siswa. Data tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar, tetapi juga mendukung pengelolaan lembaga pendidikan secara lebih efektif.
Apabila dimanfaatkan secara bijak, AI memberikan berbagai manfaat bagi dunia pendidikan. Mengutip dari aicoursecreator.eskilled.io/id, AI mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih personal sesuai kebutuhan dan kemampuan setiap siswa. Teknologi ini juga mendukung pembelajaran inklusif melalui fitur text-to-speech dan transkripsi otomatis bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Sementara itu, bagi guru dan dosen, AI dapat membantu menyusun materi pembelajaran, membuat soal evaluasi, mempercepat proses penilaian, hingga mengurangi beban administrasi. Dengan demikian, pendidik memiliki lebih banyak waktu untuk membimbing, berdiskusi, dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan peserta didik.
Meski demikian, pemanfaatan AI juga menghadirkan berbagai tantangan. Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Syamsul Sodiq, dalam rilis resmi unesa.ac.id, mengingatkan bahwa apabila AI mengambil alih seluruh proses berpikir siswa, pendidikan berisiko kehilangan sisi kemanusiaannya. Siswa dapat menjadi lebih berorientasi pada hasil instan daripada menjalani proses belajar yang melatih kemampuan berpikir secara mandiri.
Risiko lain adalah munculnya ketergantungan terhadap AI. Berdasarkan Jurnal Ilmiah SINOVA yang dipublikasikan melalui miftahul-ulum.or.id, penggunaan AI secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, melemahkan kreativitas, serta meningkatkan praktik kecurangan akademik melalui karya yang sepenuhnya dihasilkan AI. Di sisi lain, teknologi pendeteksi tulisan berbasis AI hingga kini juga belum sepenuhnya akurat sehingga masih berpotensi menimbulkan kesalahan penilaian.
Tantangan berikutnya adalah kesenjangan digital. Masih berdasarkan sumber yang sama, sekitar 17% sekolah di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) masih menghadapi keterbatasan listrik dan akses internet. Kondisi tersebut menyebabkan pemanfaatan AI belum dapat dirasakan secara merata dan berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan wilayah terpencil.
Selain itu, AI juga menghadirkan persoalan bias algoritma dan keamanan data. Menurut lib.ub.ac.id, AI bekerja berdasarkan data yang digunakan selama proses pelatihan. Apabila data tersebut mengandung bias sosial, budaya, maupun gender, hasil yang diberikan AI juga berpotensi bersifat bias. Pengumpulan data pribadi peserta didik dalam jumlah besar juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan dan penyalahgunaan data.
Pada akhirnya, AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti tenaga pendidik. Mengutip dari unesa.ac.id, secanggih apa pun teknologi berkembang, peran guru dan dosen tetap tidak tergantikan dalam membentuk karakter, menanamkan nilai moral, serta membangun empati kepada peserta didik. Oleh karena itu, pemanfaatan AI perlu diimbangi dengan regulasi yang jelas, pemerataan akses teknologi, dan penguatan literasi digital agar kehadirannya benar-benar menjadi inovasi yang mendukung kemajuan pendidikan tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Karya: Salsa
Editor: Byline





