Saat ini selebrasi menjadi salah satu cara mahasiswa dalam merayakan keberhasilan setelah melewati tahap Seminar Proposal (Sempro). Teman-teman mahasiswa biasanya memberikan sesuatu yang spesial, seperti papan bunga, buket, hadiah, hingga ucapan selamat. Kebiasaan ini semakin sering ditemui di lingkungan akademik dan bahkan muncul istilah “kondangan akademik”, yaitu ketika teman-teman datang untuk memberikan dukungan sekaligus mengabadikan momen bersama.
Fenomena tersebut tidak hanya menjadi bentuk perayaan, tetapi juga menunjukkan adanya solidaritas antarmahasiswa. Berdasarkan sumber dari ftik.uinsaizu.ac.id, “kondangan akademik” digambarkan sebagai ruang untuk saling mendukung dan memberikan motivasi di tengah beratnya perjalanan akademik. Kehadiran teman yang menyaksikan pencapaian tersebut juga dapat membuat lingkungan kampus terasa lebih dekat.
Selain menjadi bentuk solidaritas, selebrasi juga berkaitan dengan perubahan cara mahasiswa, khususnya Gen Z, dalam mengekspresikan pencapaian. Mengutip laporan dari tugumalang.id, di era digital ini, perjalanan akademik semakin sering didokumentasikan dan dibagikan melalui media sosial. Buket, dekorasi, foto, hingga unggahan menjadi simbol bahwa seseorang telah melewati sebuah perjalanan dan perjuangan.
Di sisi lain, tidak semua mahasiswa menganggap bahwa Sempro perlu dirayakan secara besar-besaran. Sebagian mahasiswa memandang Sempro masih merupakan tahap awal dalam perjalanan menyelesaikan skripsi. Setelahnya, masih ada Seminar Hasil (Semhas) dan munaqasyah yang harus dilalui sebelum mahasiswa benar-benar menyelesaikan seluruh rangkaian tugas akhir.
Pandangan tersebut membuat sebagian mahasiswa memilih untuk tidak melakukan perayaan secara berlebihan. Bagi mereka, pencapaian Sempro cukup diapresiasi secara sederhana tanpa harus membawa papan bunga atau mengadakan perayaan hingga berjam-jam. Bukan karena perjuangan tersebut tidak penting, tetapi karena perjalanan akademik masih berlanjut pada tahap berikutnya.
Perdebatan mengenai selebrasi akademik juga pernah muncul setelah sidang skripsi. Pada tahun 2024, sebuah video dosen yang menegur mahasiswa karena melakukan selebrasi setelah sidang skripsi menjadi viral. Berdasarkan laporan dari okezone.com, kritik tersebut muncul karena mahasiswa dianggap melakukan perayaan sebelum status kelulusannya benar-benar ditetapkan. Dosen tersebut mengingatkan bahwa lulus sidang skripsi tidak selalu berarti mahasiswa sudah resmi lulus kuliah atau memperoleh gelar sarjana.
Dilansir dari sketsaunmul.co, terdapat mahasiswa yang menganggap bahwa selebrasi sebagai self-reward dan penghargaan dari teman. Ada pula yang melihatnya sebagai bagian dari fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Pandangan tersebut menunjukkan bahwa selebrasi akademik dapat dimaknai secara berbeda, baik sebagai bentuk apresiasi maupun sebagai sesuatu yang belum diperlukan pada tahap tertentu.
Menurut saya, selebrasi setelah Sempro tetap dapat menjadi bentuk apresiasi terhadap proses dan perjuangan yang telah dilakukan. Mempersiapkan proposal penelitian, melakukan revisi, hingga menghadapi dosen penguji membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, dan mental. Kehadiran teman, ucapan selamat, atau perayaan sederhana dapat memberikan kesan bahwa perjuangan tersebut dihargai. Selebrasi itu dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap perjuangan, selama dilakukan secara wajar.
Pada akhirnya, persoalan selebrasi bukan sekadar mengenai boleh atau tidaknya mahasiswa merayakan pencapaian. Mahasiswa yang ingin merayakan Sempro memiliki alasan untuk mengapresiasi proses yang telah dilewati, sementara mahasiswa yang memilih tidak merayakannya juga memiliki pertimbangan bahwa perjalanan skripsi masih panjang. Keduanya merupakan cara yang berbeda dalam memaknai sebuah pencapaian.
Sempro memang bukan akhir dari perjalanan skripsi karena masih ada Semhas dan munaqasyah. Namun, bukan berarti pencapaian pada setiap tahap tidak boleh diapresiasi. Merayakan keberhasilan adalah hal yang wajar selama dilakukan secara proporsional, tidak mengganggu lingkungan akademik, dan tidak menghilangkan tanggung jawab untuk menyelesaikan tahapan berikutnya. Pencapaian akademik bukan hanya tentang seberapa meriah perayaan atau seberapa ramai unggahan di media sosial, melainkan tentang ilmu, proses, dan tanggung jawab yang tetap dibawa setelah momen selebrasi berakhir.
Karya: Anndo
Editor: Byline





