Setiap mahasiswa memiliki cara yang berbeda dalam menjalani kehidupan kampus. Dalam dunia perkuliahan, dikenal dua istilah yang cukup populer, yaitu mahasiswa kuliah-pulang (kupu-kupu) dan mahasiswa kuliah-rapat (kura-kura). Kedua istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan pola aktivitas mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Banyak mahasiswa memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu, yaitu mereka yang tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus dan lebih fokus pada aktivitas di luar kampus. Namun, bukan berarti mereka tidak produktif atau tidak mengembangkan potensi diri. Berdasarkan penelitian dari ojs.unm.ac.id, banyak mahasiswa kupu-kupu memilih memfokuskan waktu mereka pada pencapaian akademik, pekerjaan, kondisi keluarga, maupun tujuan pribadi lainnya. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang aktif mengikuti lomba, program magang, pelatihan, penelitian, atau mengembangkan keterampilan yang mendukung karier mereka di masa depan.
Sementara itu, mahasiswa kura-kura merupakan mahasiswa yang aktif dalam organisasi dan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Mereka dituntut memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik karena harus menyeimbangkan tanggung jawab akademik dengan aktivitas organisasi. Keaktifan dalam organisasi dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, serta memperluas jaringan pertemanan dan relasi profesional. Namun, mengutip dari kompas.com, mahasiswa yang terlalu banyak terlibat dalam berbagai kegiatan juga berisiko mengalami kelelahan fisik maupun mental apabila tidak mampu mengatur waktu dan menjaga keseimbangan antara akademik dan organisasi.
Perguruan tinggi pada dasarnya tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh nilai akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri. Menurut kemdiktisaintek.go.id, pendidikan tinggi tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan karakter, kompetensi, dan kesiapan mahasiswa menghadapi kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja.
Selain itu, mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan mengelola waktu dan menentukan prioritas. Tuntutan perkuliahan yang semakin kompleks mengharuskan mahasiswa mampu menyeimbangkan berbagai tanggung jawab yang dimiliki. Kemampuan ini menjadi bekal penting karena dunia kerja tidak hanya menilai kemampuan akademik, tetapi juga kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, dan keterampilan menyelesaikan masalah.
Sayangnya, masih banyak stereotip yang berkembang di lingkungan kampus. Mahasiswa kupu-kupu sering dianggap kurang aktif dan kurang memiliki pengalaman organisasi. Sebaliknya, mahasiswa kura-kura kerap dipandang terlalu sibuk berorganisasi hingga mengabaikan kepentingan akademik. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak mahasiswa kupu-kupu yang berhasil meraih berbagai prestasi akademik maupun nonakademik, sementara banyak pula mahasiswa kura-kura yang mampu mempertahankan prestasi akademik di tengah kesibukan organisasi.
Menurut saya, setiap mahasiswa memiliki kondisi, minat, dan prioritas yang berbeda. Ada mahasiswa yang harus membagi waktu untuk bekerja, membantu keluarga, atau mengejar target akademik tertentu sehingga memilih menjadi kupu-kupu. Di sisi lain, ada mahasiswa yang merasa organisasi merupakan sarana terbaik untuk belajar dan mengembangkan diri sehingga memilih menjadi kura-kura. Oleh karena itu, kedua pilihan tersebut memiliki nilai positif yang patut dihargai.
Baik mahasiswa kupu-kupu maupun kura-kura sama-sama memiliki peran penting dalam lingkungan kampus. Mahasiswa kura-kura memperoleh pengalaman berharga melalui organisasi, seperti kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama tim. Sementara itu, mahasiswa kupu-kupu memiliki kesempatan lebih besar untuk fokus pada akademik, meningkatkan kompetensi, serta mengembangkan kemampuan secara mandiri melalui berbagai kegiatan di luar organisasi.
Idealnya, pengalaman organisasi dan pencapaian akademik dapat berjalan secara seimbang sehingga mahasiswa memiliki daya saing yang lebih baik setelah lulus. Menurut laporan weforum.org/publications, kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreativitas, dan kepemimpinan merupakan keterampilan yang semakin dibutuhkan di dunia kerja saat ini. Keterampilan tersebut dapat diperoleh melalui berbagai pengalaman, baik di dalam maupun di luar organisasi.
Di lingkungan kampus, yang terpenting bukanlah label yang melekat pada seseorang, melainkan bagaimana mahasiswa mampu memanfaatkan masa kuliah untuk menambah ilmu, pengalaman, dan keterampilan sebagai bekal menghadapi masa depan. Sebab, keberhasilan seorang mahasiswa tidak ditentukan oleh apakah ia kupu-kupu atau kura-kura, melainkan ditentukan dengan bagaimana ia bertumbuh dan berkembang selama menjalani proses perkuliahan.
Karya: Doni
Editor: Byline





