Prodi Baru di FS dan FEBI, Menjawab Kebutuhan atau Sekedar Menambah Pilihan?

Kabar mengenai rencana pembukaan Program Studi (Prodi) baru di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) kembali menjadi perbincangan. Fakultas Syariah (FS) dikabarkan akan membuka Prodi Hukum Pidana Islam (HPI), sementara Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) tengah merencanakan pembukaan Prodi Pariwisata atau Bisnis Digital. Di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, langkah ini tentu menarik perhatian.

Informasi mengenai pembukaan Prodi HPI telah dikonfirmasi melalui akun Instagram FS yakni @fs_radenintan. Kehadiran Prodi ini dapat menjadi langkah positif karena memperluas pilihan bidang keilmuan bagi calon mahasiswa sekaligus memperkuat identitas FS sebagai pusat pengembangan studi hukum Islam.

Pada dasarnya, Prodi HPI bukanlah hal baru di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Salah satu contohnya adalah UIN Raden Fatah Palembang yang telah lebih dahulu menghadirkan Prodi serupa. Berdasarkan informasi dari pmb.radenfatah.ac.id, Prodi tersebut telah berdiri sejak tahun akademik 2000/2001 dengan nama Jinayah Siyasah, kemudian pada tahun akademik 2016/2017 resmi berubah menjadi Prodi HPI (Jinayah). Fakta ini menunjukkan bahwa rencana pembukaan Prodi HPI di UIN RIL memiliki landasan akademik yang jelas dan telah diterapkan di sejumlah PTKIN lainnya.

Menurut Agif, salah satu mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah (HES), pembukaan Prodi baru tersebut cukup relevan dengan kondisi FS saat ini. Ia menilai bahwa minat calon mahasiswa terhadap beberapa Prodi di fakultas tersebut mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, jumlah mahasiswa baru pada sejumlah Prodi belum mampu menembus angka seratus orang setiap tahunnya. Dalam kondisi demikian, kehadiran Prodi baru diharapkan dapat meningkatkan daya tarik fakultas sekaligus membuka ruang pengembangan akademik yang lebih luas.

Di sisi lain, beredar informasi bahwa FEBI juga berencana membuka Prodi baru, yakni Pariwisata atau Bisnis Digital. Meskipun hingga kini belum diumumkan secara resmi, wacana tersebut dinilai cukup relevan dengan perkembangan dunia kerja saat ini. Transformasi digital yang semakin masif telah melahirkan berbagai profesi baru yang membutuhkan kompetensi di bidang teknologi, pemasaran digital, analisis data, hingga kewirausahaan berbasis digital. Sementara itu, sektor pariwisata juga terus berkembang dan menjadi salah satu industri yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Menurut Ridho, salah satu mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah (MBS), penambahan Prodi baru di FEBI merupakan langkah yang penting. Saat ini FEBI hanya memiliki empat program studi, yakni Ekonomi Syariah (ES), Perbankan Syariah (PS), Akuntansi Syariah (AKS), dan Manajemen Bisnis Syariah (MBS). Kehadiran Prodi baru dinilai dapat memperluas pilihan bagi calon mahasiswa sekaligus memperkaya cakupan keilmuan yang dimiliki fakultas.

Keberhasilan Prodi MBS yang dibuka pada tahun 2017 juga dapat menjadi salah satu contoh bahwa inovasi akademik mampu menarik minat masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, MBS menjadi salah satu Prodi dengan jumlah peminat yang cukup tinggi. Karena itu, bukan tidak mungkin Prodi Pariwisata maupun Bisnis Digital nantinya juga memperoleh respons positif dari calon mahasiswa.

Menurut saya, pembukaan Prodi baru tidak seharusnya hanya berorientasi pada peningkatan jumlah pendaftar. Kampus perlu memastikan bahwa Prodi yang dibuka benar-benar memiliki kesiapan akademik dan fasilitas yang memadai. Penambahan Prodi akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan dosen sesuai bidang keahlian, ruang kuliah, laboratorium, serta sarana penunjang lainnya. Tanpa perencanaan yang matang, kualitas pembelajaran justru berpotensi menurun karena sumber daya yang tersedia harus dibagi ke lebih banyak Prodi.

Selain itu, kampus juga perlu memikirkan prospek lulusan secara jangka panjang. Prodi baru akan lebih bermakna apabila dibangun berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia kerja, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang populer. Jangan sampai lulusan nantinya menghadapi kesulitan dalam mencari ruang pengabdian karena kompetensi yang diperoleh tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Oleh karena itu, rencana pembukaan Prodi HPI di FS maupun Prodi Pariwisata atau Bisnis Digital di FEBI patut diapresiasi sebagai upaya pengembangan akademik di UIN RIL. Namun, keberhasilan kebijakan ini tidak dapat diukur hanya dari bertambahnya jumlah Prodi saja, karena yang lebih penting adalah bagaimana kampus mampu menghadirkan kurikulum yang relevan, sumber daya yang memadai, serta prospek lulusan yang jelas. Sebab pada akhirnya, Prodi yang berkualitas akan menjadi investasi jangka panjang bagi kampus dan mahasiswa, bukan sekadar tambahan nama dalam brosur penerimaan mahasiswa baru.

Karya: Refki
Editor: Byline

Pos terkait