Di dalam kamar yang kumuh,
terdapat buku yang menyimpan keluh.
Debu menempel di sudut-sudutnya,
seperti waktu yang enggan pergi.
Halaman yang dahulu putih kini terlihat menguning.
Pena yang tak pernah kering,
pernah singgah di sana.
Meninggalkan jejak-jejak kecil,
yang tak selalu dimengerti maknanya.
Setiap kata yang tertulis,
seperti butiran pasir membangun kota.
Ia bisa menjadi peluru,
bisa menjadi pelita.
Ia bergantung pada tangan yang merangkai cerita.
Apakah ia hadir tuk melukai,
atau tuk merawat semesta?
Menulislah, meski hanya tentang sunyi.
Menulislah, meski dunia menganggap tiada arti.
Menulislah, agar waktu tak sepenuhnya menghapusmu.
Sebab saat raga luruh,
tulisan kan tetap abadi.
Ia tak akan pernah mati,
meski dunia terus berjalan.
Karya: Nabil
Editor: Byline





