Ketukan papan ketik terdengar silih berganti dari sebuah ruangan sederhana di sudut kampus Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL). Sejumlah mahasiswa larut menatap layar, sesekali bertukar gagasan, lalu kembali merangkai kalimat demi kalimat. Dari ruang kecil itu, ide tumbuh, fakta ditelusuri, dan suara mahasiswa dipersiapkan untuk menjangkau publik. Bagi mereka, menulis bukan sekadar menyusun kata, melainkan upaya menjaga kebenaran agar tetap bernapas di tengah derasnya arus informasi.
Percakapan-percakapan kecil tumbuh di sela aktivitas kemahasiswaan, menjadi denyut yang tak pernah benar-benar padam di tubuh Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Mahasiswa Raden Intan (UKM PersMa RI). Di sana, diskusi bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang bertemunya beragam pikiran perihal tugas kuliah, isu kampus, kebijakan, hingga persoalan sosial yang lebih luas. Dari obrolan yang mengalir itulah, ide-ide perlahan menemukan bentuknya, dirangkai menjadi berita, opini, artikel, bahkan karya sastra. PersMa menjelma menjadi ruang belajar, tempat mahasiswa memahami bahwa menulis bukan hanya soal kata, tetapi juga tanggung jawab atas kebenaran yang disampaikan.
Jejak itu telah dimulai sejak 17 April 2000, ketika PersMa RI pertama kali berdiri dengan nama UKM Surat Kabar Mahasiswa (SKM). Ia lahir dari kegelisahan yang sederhana, tentang kebutuhan akan sebuah ruang yang mampu menyuarakan mahasiswa secara jujur dan berimbang. Sejak saat itu, PersMa RI tidak sekadar menjadi media, melainkan tumbuh sebagai wadah yang merawat suara, menjaga nalar, dan merekam realitas yang terus bergerak di lingkungan kampus.
Lebih dari dua dekade berlalu, PersMa RI terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Tidak hanya bertahan sebagai media cetak, PersMa RI bertransformasi dengan memanfaatkan platform digital seperti Instagram, blogspot, bahkan website. Perkembangan ini tidak hanya memperluas jangkauan informasi, tetapi juga menuntut anggotanya untuk lebih adaptif terhadap dinamika media yang terus berubah.
Bagi M. Iqbal Wahyu Anuari, Pemimpin Umum (Pemum) UKM PersMa RI, rumahnya ini bukan sekadar media informasi. Lebih dari itu, ada ruang belajar dan proses panjang yang terus hidup di dalamnya.
“Selama 26 tahun berdiri PersMa RI tidak hanya berfungsi sebagai media informasi di dalam maupun di luar kampus, tetapi juga menjadi wadah bagi para anggota untuk belajar, mengembangkan diri, dan menjadi ruang untuk berpikir kritis, serta memahami realitas yang ada,” ujarnya.
Ia kerap menegaskan, bahwa PersMa RI berupaya menjaga keseimbangan informasi di tengah berbagai dinamika yang ada.
“PersMa RI tidak hanya menyampaikan hal-hal positif, tetapi juga mengungkap realitas yang perlu dikritisi. PersMa RI hadir sebagai jembatan antara mahasiswa dan birokrasi, dengan tetap menjaga independensi,” ujarnya lagi.
Di balik setiap tulisan yang terbit, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat. Anggota PersMa RI dibekali berbagai pelatihan, mulai dari dasar-dasar jurnalistik, penulisan berita, teknik wawancara, karya sastra, hingga fotografi dan videografi. Proses ini menjadi fondasi penting dalam membentuk kemampuan sekaligus karakter jurnalis mahasiswa.
Tidak hanya berfokus pada penulisan, PersMa RI juga menjadi tempat tumbuhnya keberanian-keberanian untuk bertanya, mengkritisi, dan menyuarakan hal-hal yang sering kali luput dari perhatian. Dalam lingkungan akademik, peran ini menjadi bagian penting dari fungsi kontrol sosial.
Dalam praktiknya, PersMa RI aktif mengikuti berbagai aktivitas, baik di dalam maupun di luar UIN RIL. Kegiatan kampus hingga aksi unjuk rasa menjadi ruang liputan bagi para anggotanya. Ketika muncul suatu isu, PersMa berupaya menggali informasi, fakta, dan data secara mendalam. Tidak jarang, tulisan yang dihasilkan menjadi bahan diskusi, bahkan memicu respons dari berbagai pihak.
Langkah PersMa RI tidak selalu berjalan mulus. Berbagai tantangan hadir, mulai dari keterbatasan sumber daya, tekanan terhadap kebebasan pers, hingga rendahnya minat literasi di kalangan mahasiswa. Meski demikian, komitmen untuk menyuarakan kebenaran tetap menjadi landasan yang terus dijaga.
Pada akhirnya, keberadaan UKM PersMa Raden Intan bukan sekadar organisasi jurnalistik. Ia merupakan ruang pembelajaran, tempat dimana mahasiswa belajar bersuara, berpikir kritis, dan bertanggung jawab atas setiap kata yang dituliskan. Di tangan mereka, tulisan bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan bentuk keberanian untuk menyampaikan fakta, mengkritisi, dan berkontribusi dalam perubahan.
Karya: Byline
Editor: Aline





